Oleh : Media Sucahya
Usai pemilu legislatif 9 April 2009, setiap televisi menayangkan hasil hitung cepat (quick count). SBY dan JK, dalam berbagai tayangan berita di televisi, menonton empat televisi yang dinyalakan bersamaan, dimana masing-masing televisi menayangkan hasil hitung cepat. TvOne menayangkan hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia, RCTI menayangkan hasil LP3ES, Metrotv menayangkan hasil Lembaga Survei Indonesia, dan SCTV menayangkan hasil dari Cirrus. Mengapa SBY dan JK merasa perlu untuk melihat siaran TvOne, Metrotv, SCTV, RCTI secara bersamaan? Jawabannya adalah ingin mengetahui hasil hitung cepat pemilu 9 April 2009 yang terbaru dan teraktual.
Apa yang dilakukan stasiun televisi menyiarkan hasil hitung cepat, merupakan langkah menaikkan rating untuk meraih iklan. Program acara yang memiliki rating tinggi, akan diminati pemasang iklan. Semakin tinggi rating sebuah program acara, berarti semakin banyak penontonya. Maka, stasiun televisi membuat dan mengubah berbagai program baru demi meningkatkan rating. Stasiun televisi melakukan kerjasama dengan berbagai institusi untuk membuat program yang bernilai ekonomis, termasuk bekerja sama dengan lembaga survei untuk melakukan hitung cepat.
Berangkat dari asumsi, masyarakat ingin mengetahui hasil pemilu 2009 secepatnya, masing-masing stasiun televisi melakukan kerjasama dengan lembaga survei secara ekslusif. Televisi akan menyiarkan hasil hitung cepat pemilu yang dilakukan lembaga survei Hasilnya, televisi pun ditonton puluhan juta pemirsa, terutama pengurus parpol, caleg, serta masyarakat yang ingin mengetahui hasil akhir pesta demokrasi di tanah air. Televisi telah mengubah konsep dan program pemberitaannya, yang tidak semata-mata menyampaikan informasi, menghibur, mendidik, dan kontrol sosial. Tapi juga mampu memainkan peran secara aktif sebagai saluran komunikasi politik, sehingga menyedot perhatian seluruh rakyat Indonesia.
Perubahan Media
Menurut William L River, media berubah akibat perkembangan demokrasi, revolusi industri dan teknologi, serta bermunculan kota-kota baru. (Media Massa dan Masyarakat Moderen, 2004:51). Kerjasama televisi dengan lembaga survei juga didorong oleh ketiga faktor tersebut. Tanpa faktor tersebut, sulit bagi media untuk berkembang dan mempertahankan eksistensinya.
Pertama, perkembangan demokrasi amat menentukan sejauh mana eksistensi stasiun televisi. Sejak Rezim Soeharto tumbang tahun 1998, Indonesia memasuki era demokrasi, yang ditandai dengan adanya kebebasan menyampaikan pendapat, pemilu yang jujur dan adil, serta tidak ada sensor terhadap pers. Media dapat memberitakan berbagai informasi, tanpa khawatir akan dibredel oleh pemerintah, sebagaimana yang pernah diterapkan oleh rezim orde baru. Iklim demokrasi memungkinkan televisi melakukan kontrol dan pengawasan terhadapa pemerintah maupun kepada lembaga lain yang dianggap telah melanggar berbagai peraturan yang ada. Maka televisi pun membuat program yang mengkritisi dan menginvestigasi berbagai kebijakan pemerintah untuk meningkatkan rating, agar tetap dilirik pemasang iklan.
Kedua, revolusi industri dan teknologi telah mengubah cara kerja media dalam pemberitaan, distribusi, dan iklan. Konsep berita aktual berubah dari yang per jam, kini menjadi per detik dan realtime. Setiap peristiwa yang terjadi di berbagai tempat, dapat disiarkan langsung saat peristiwa itu terjadi. Acara rapimnas Golkar, PDIP, Demokrat, PAN dan PKS dapat disiarkan langsung oleh stasiun televisi dari tempat acara rapimnas itu diadakan. Saat itu, televisi telah berperan sebagai saluran komunikasi politik, dimana ketua parpol menyampaikan pesan-pesan politik kepada masyarakat. Televisi juga telah mendorong agenda parpol untuk melakukan koalisi dengan parpol lainnya, dalam menyiapkan capres dan cawapres 2009-2014, meski KPU belum mengumumkan hasil pemilu legislatif 2009. Media yang tidak menggunakan teknologi komunikasi terbaru, sulit berkembang dan bersaing.
Ketiga, media berubah karena lahirnya kota-kota baru, yang di Indonesia merupakan kota, kabupaten, atau propinsi hasil pemekaran. Kota baru ini melahirkan identitas baru khalayak secara geografis, etnis, maupun ekonomi. Media harus mengubah konsep berita yang lebih mengedepankan faktor kedekatan (proximity) dengan masyarakat di kota-kota baru itu. Kota baru secara administratif juga melahirkan jabatan-jabatan baru mulai dari gubernur, bupati, walikota, dan anggota dewan. Penambahan jabatan dan kursi baru ini, membuat kota-kota baru mendapatkan liputan pemberitaan yang khusus, yang berarti media harus menambah SDM dan infrastruktur di kota baru tersebut. Saat pemilu dan pilkada berlangsung di kota-kota baru, media memberitakan perkembangan politik mutakhir yang ditunggu masyarakat kota tersebut serta para pejabat di Jakarta dan kota-kota lain.
Pilpres 2009
Ada empat agenda penting terkait dengan pemilihan presiden. Yaitu pencontrengan Pilpres 8 Juli 2009, tayangan hasil hitung cepat capres peraih suara terbanyak oleh lembaga survei, pelantikan presiden 10 Oktober 2009, dan konfigurasi susunan kabinet. Keempat agenda politik itu, dipastikan akan menyita pemberitaan media, dengan membuat program yang berbentuk talkshow, liputan langsung, analisis, dan prediksi. Televisi juga merekrut pengamat politik secara ”permanen” untuk mengelaborasi isu-isu politik dan memprediksi arah dinamika politik yang terjadi. Peran lembaga survei dengan berbagai analisis dan hitung cepat tetap diandalkan bagi televisi untuk menyedot perhatian pemirsa.
Pada akhirnya, televisi tidak hanya sebagai saluran komunikasi politik, tapi secara terbatas berperan menstabilkan kondisi politik, terutama setelah televisi berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei memastikan siapa capres yang meraih suara terbanyak. Televisi telah menghilangkan ketidakpastian mengenai siapa calon presiden berikutnya hanya dalam waktu tidak kurang 24 jam setelah pencontrengan Pilpres. Bandingkan dengan KPU yang hanya mampu menghitung 10% total suara selama seminggu pada pemilu legislatif lalu. Peran yang dijalankan televisi yang disebutkan di atas, merupakan dampak perubahan yang dilakukan manajemen televisi untuk tetap eksis ditengah ketatnya persaingan industri media.
Media sucahya
*Pengajar Mata Kuliah Komunikasi Massa dan Pengamat Komunikasi Politik
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.