Media sucahya

Romansa Cinta Kintan

May 17, 2008 · Leave a Comment

Ini adalah salah satu bagian Novel Merah Cinta Jakarta*
Penulis : Media Sucahya
Halaman : 300 hal
Rencana Terbit : Desember 008
Penerbit :Raihan Elang Dreams

Kintan mengajukan cuti selama seminggu untuk berlibur ke Jakarta. Bayu tentu saja mengijinkan. Tidak hanya itu, ia pun dengan suka rela menemaninya selama di Jakarta. Bahkan hampir semua kebutuhan akomodasi mulai dari hotel, makan, belanja ditanggung Bayu. Malam itu Kintan dan Bayu hendak jalan-jalan di Sogo Departement Store. Saat ia tengah melihat-lihat pakaian, tanpa sengaja ia melihat seorang laki-laki yang tengah menggamit lengan seorang perempuan. Hatinya langsung berdesir dan jantungnya berdegup keras saat ia tahu siapa yang dilihatnya. Ia berusaha untuk segera menjauh, dengan mempercepat langkahnya sambil menggamit lengan Bayu. Tapi rencana itu tidak sempat, karena orang yang dilihatnya tiba-tiba menatapnya juga. Kedua mata mareka saling bersirobok. Tapi Kintan pura-pura tidak melihat. Ia mempercepat langkahnya agar semakin menjauh. Dan menjauh. Bayu yang tidak tahu apa-apa menurut saja saat Kintan menggamitnya untuk berjalan cepat. Sesampainya di kamar, ia jadi merenung sendiri. Ia melihat lelaki itu menggandeng Yosi.
Sejak meninggalkan Rendi, ia berikrar akan menutup rapat pintu hatinya dari siapa pun. Ia tak ingin hatinya terluka untuk kedua kali. Termasuk ia menutup rapat-rapat hatinya dari cinta Bayu. Ia tahu, Bayu begitu menginginkan dirinya untuk menjadi kekasih. Berbagai cara ditempuh lelaki itu untuk menaklukkan kekuatan karang hatinya. Tapi hingga saat itu, ia masih menyimpan kunci itu rapat-rapat. Kintan masih tetap menolak cinta Bayu. Hingga saat malam itu ia melihat Rendi menggandeng mesra Yosi. Seketika benteng pertahanan hati, ia rasakan mulai goyah. Kekukuhan hatinya untuk menyimpan sekeping cinta hanya untuk Rendi, akhirnya ambruk.
Maka pagi itu, ia lebih dulu menelpon Bayu untuk breakfast bersama-sama. Keduanya menginap di hotel yang sama, tapi dengan kamar masing-masing. Bayu tentu kaget setengah mati menerima ajakan itu. Karena sejak tiga hari bersama-sama, selalu ia yang menelpon mengajaknya breakfast. Mulai pagi itu, Kintan begitu mesra bila berduaan dengan Bayu. Bahkan ia tidak sungkan-sungkan lagi memegang lengan Bayu saat berjalan bersama-sama. Dan ia pun membiarkan saja tangannya digenggam mesra. Bahkan saat Bayu mencium bibirnya, ia membalas dengan penuh kehangatan. Ia ikut larut memagut bibir Bayu yang terasa panas dan liar itu.
”Ah, sudah saatnya aku harus benar-benar melupakan Rendi,” Sumpahnya dalam hati.
Sementara itu, Bayu tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa berhasil menaklukkan hati perempuan itu, setelah ia memanjakannya selama di Jakarta. Ia merasa perjuangan dan pengorbannya selama ini tidak sia-sia.
”Kasih saya waktu dua bulan untuk merundingkan hari pernikahan kita mas,” kata Kintan kepada Bayu, tiga bulan setelah mereka pulang dari Jakarta.
Sudah tentu ia akan berusaha untuk mencintai lelaki itu. Karena itu, saat bibirnya dicium, ia membalasnya dengan hangat. Tapi sayangnya, saat bibirnya dilumat Bayu wajah Rendi selalu muncul. Begitu, dan begitu seterusnya, selalu bukan wajah Bayu yang hadir.
”Saya perlu waktu untuk melupakan kamu mas Ren.” Ia menghibur diri dalam hati.
***
Jam tujuh malam Bayu sudah datang ke rumah Kintan. Malam itu ia mengajak Kintan untuk bertemu kedua orangtuanya. Saat sarapan pagi tiga hari lalu, mamanya mencandainya.
“Pa, mama dengar ada bunga yang selalu menebarkan harum ya di kantor Bembi. Karena bunga itu, Bembi sekarang selalu pulang malam.” Bembi adalah panggilan kesayangan Bayu sejak kecil. Hanya keluarga dekat yang menyapa dengan nama itu.
“Ya, kabar itu sih sudah papa dengar lama, ma. Tapi kapan ya, bunga itu dibawa ke sini.”
“Papa sama mama ngomong apa sih.” Bayu pura pura tidak tahu.
“Kalau bunganya indah, kenapa musti malu pa ya dibawa ke sini.”
“Papa sih pengen cepet cepet Ma pingin lihat bunga itu.” Ayahnya masih menggoda.
“Ya..ya..entar Bembi bawa. Ntar Bembi kenalin.”
Obrolan pagi itulah yang membuat Bayu malam itu menjemput Kintan.
Kintan sendiri sudah siap sejak setengah jam sebelumnya. Ia mengenakan blus lengan pendek warna coklat. Seuntai liontin permata bermotif bunga melingkar dileher, membuat lehernya yang jenjang itu terlihat indah. Bayu berkali kali menatap leher kekasihnya itu penuh kekaguman. Kintan sengaja berdandan secantik mungkin. Ia sadar, kedua orang tua Bayu ini orang terpandang dan terkaya di Jawa Timur. Ia ingin memberi kesan terbaik dan juga tidak ingin kecewakan pacarnya.
Ada keragu-raguan di hati Kintan, saat Bayu mengajak makan malam. Haruskah permintaan itu ia penuhi? Apakah ini tidak terlalu cepat? Bagaimana bila kedua orang tua Bayu menyukai dirinya dan secepatnya ingin menjadikan dirinya menantu? pertanyaa itu terus menari-nari dalam hati. Bila semua itu terjadi,bagaimana dengan mas Rendi? Ah, mengapa selalu wajah lelaki itu yang hadir, saat ia harus menjalin kasih dengan pria yang mulai ia sukai. Namun keraguan raguan itu segera ia tepis jauh-jauh.
“Aku berhak untuk mencintai dan dicintai siapapun, meski lelaki itu adalah mas Bayu. Aku berhak untuk mereguk manisnya kebahagiaan cinta.” gumamnya. Maka malam itupun ia menebarkan senyum saat bertemu orangtua Bayu. Malam itu memang milik Kintan. Ningsih berkali kali memuji kekasih anaknya itu. Ia sepertinya tak puas-puas menyenangkan Kintan.
“Kapan Pa ya, kita datang ke rumah orang tua Nak Kintan.”
“Ya.Kapan Bem papa denga mama ke sana.” Ayahnya menimpali.
Yang ditanya hanya tersenyum sambil menggenggam mesra jemari kekasihnya. Kintan pun hanya tersenyum.
“Itu sih terserah Om dan tante saja. Kan om dan tante sibuk terus. Kalau ibu saya kan tinggal di desa. Jadi kapan saja om dan Tante datang, selalu siap.” Kintan merendah.
Begitu merebahkan diri di atas tempat tidur, Kintan bukannya terlelap untuk tidur. Ia jadi seperti merasa berdosa baik kepada dirinya maupun kepada orangtua Bayu.
“Haruskah aku menolak ketulusan mereka untuk menyayangiku. Sementara hatiku sendiri masih belum sepenuhnya memberikan ruang untuk cinta Mas Bayu.”
Jam berdentang empat kali saat Kintan bener benar pulas tertidur
***
Seminggu setelah makan malam dengan orang tua Bayu, Kintan pulang kampung. Bayu ikut dengan mengenakan kaos berkerah warna biru tua.
“Kintan jangan dihina ya. Karena rumah Kintan jelek dan sudah tua.”
Bayu tersenyum sambil menggenggam lengan kekasihnya.
“Mas tidak peduli apakah kamu punya rumah atau tidak. Yang penting kamu punya ruang di hati untuk mas istirahat.”
Terasa sembilu Kintan mendengar ungkapan itu. “Ah, seandainya ucapan itu aku dengar dari mas …..” Ia segera menepis bayangan itu. Ia tak mau terbuai dalam roman-roman para pujangga cinta yang mengisahkan cinta pertama tidak akan lekang hingga hayat dikandung badan.
Narti, Ibunya sudah menanti di teras rumah, saat mereka datang. Bayu diperkenalkan Kintan dengan senyum sumringah.
“Bu, ini mas Bayu yang pernah Kintan ceritakan.”
Ibunya menerima salam lelaki yang sepintas mirip Misno. Hanya saja ia terlihat lebih bersih, kulitnya putih, dan tampak terpelajar. Dengan penampilan yang terlihat jantan, cakep, dan dewasa, pasti banyak perempuan yang bersedia menjadi kekasihnya. Namun Narti tidak bisa menebak, siapa yang tertarik lebih dulu diantara keduannya, apakah anaknya atau pemuda yang kini sudah duduk di kursi kayu yang catnya sudah terkelupas disana sini.
Namun naluri Narti selaku seorang ibu berbicara lain. Sorotan mata anaknya tidak terlalu berbinar, saat bercengkrama dengan Bayu. Tidak ada cahaya yang melingkari seluruh kelopak matanya. Garis yang memanjang tipis disudut bibir anaknya, juga tidak seirama dengan ucapan yang diungkapkan. Padahal Narti tahu persis, sejak kecil, untuk mengetahui Kintan mengatakan yang sejujurnya atau tidak, cukup melihat garis yang terbentuk diujung bibir. Bila garis terbentuk bersamaan dengan kalimat yang keluar, berarti ucapan anaknya merupakan ungkapan hati yang terdalam. Tapi saat anaknya berceloteh tentang kekasihnya itu?
“Ah, mudah-mudahan aku salah lihat. Karena mataku sudah tidak awas lagi termakan usia,” batinnya.
Menjelang malam, keduanya pamit. Saat berpelukan, Kintan dengan suara berbisik menanyakan apakah Rendi pernah datang mencarinya. Seolah tidak ingin terdengar Bayu. Narti menjawab dengan menggeleng perlahan. Namun hatinya setelah itu sesak. Entah, mengapa ia lebih suka mengatakan yang sebaliknya, dibanding sebenarnya.
“Aku tak ingin melukai hati anakku. Lebih baik aku berbohong saja.”
Padahal ia tahu, baju yang ia kenakan merupakan pemberian Rendi yang diberikan dua bulan lalu.
***
Rendi merasa lega, karena usahanya yang selama ini untuk menemukan Kintan akhirnya berhasil. Sejak bertemu secara tidak sengaja di Sogo Departement Store, ia tidak bisa tidur. Setiba di apartemen, ia pun menelpon Capung. Ia menceritakan pertemuannya dengan Kintan, termasuk sikap Kintan yang saat itu berpelukan dengan laki-laki serta mencoba menghindar.
“Jadi lu ngapain telpon gua malam-malam begini. Cuma mau cerita gituan doang,” semprot Capung setengah kesal. Temannya itu berhak kesal, karena saat itu jam 2 malam, saat tengah enak-enaknya tidur.
“Bukan. Tugas lu adalah cari alamat Kintan dimana dia tinggal sekarang. Lu datangi aja repsionis Hotel Nusantara, karena besar kemungkinan ia nginap di sana. Karena Sogo Departement Store kan jadi satu sama hotel itu.”
“Kalau dia pakai nama bosnya gimana?”
“Ah Lu pusing amat sih. Minta aja daftar tamu dua malam berturut-turut. Pasti kan ada alamatnya. Kalau resepsionisnya menolak, kasih liat aja tato Lu. Nah tinggal dicek deh alamatnya dan nomor teleponnya satu per satu. Ntar juga bakal ketahuan, yang mana dari sekian alamat itu alamatnya Kintan.”
”Oke bos. Besok gua kerjaain deh. Gua mau tidur lagi nih. Ngantuk.”
Dua hari kemudian, Capung mengirim SMS ke Rendi. ’Alamat ktr Rtno PT Susuka Silatama jl. Kebon sayur Surabaya telp. 359999999. gua dah cek, dan betul dia disn’
Rendi membaca SMS itu dengan perasaan lega.
”Akhirnya ketemu juga kamu Ret. Bilangnya ke Taiwan, ternyata ke Surabaya,” gumam Rendi dalam hati.
”Besok lu berangkat ke Surabaya. Kasih surat gua buat dia. Pastiin, dia langsung yang terima. Suratnya besok diambil ke sini,” rendi balas sms Capung.
”Oke’
Namun begitu selesai mengirim SMS, ia sendiri bingung harus menulis apa di suratnya itu. apakah harus minta maaf, menanyakan siapa laki-laki itu, menanyakan bagaimana kondisi dirinya, atau menanyakan apakah dia sudah menikah. Ah, ia sendiri bingung. Tiba-tiba, ia SMS balik Capung. ”Pung, gua gak jadi kirim surat. Tugas lu cuma cari tahu nomor handphone Kintan”
Dua menit kemudian, Capung membalas SMSnya. ”Dasar cowok bloon. Dari dulu gak pernah bisa ngadepin cewe-cewe. Selalu gua yang maju. Ya udah, besok gua ke sby.”
Rendi hanya tertawa saja membaca balasan SMS itu.
***
Kafe Kemangi cukup dikenal bagi orang di Surabaya. Suasana ruangannya yang asri dengan interior etnik daerah bernuansa anyaman bambu, membuat ruangan itu begitu teduh dan sedap untuk dipandang mata. Sehingga membuat orang yang duduk di sana menjadi betah dan berlama-lama.
Kintan sengaja datang 10 menit lebih awal di kafe itu. Dengan harapan, ia tidak terlalu grogi saat memasuki ruangan kafe. Tapi ia kalah cepat. Saat ia masuk, Rendi sudah duduk di meja sudut sebelah kanan. Rendi melambaikan tangan kepadanya. Nuansa musik yang meningkahi kafe Kemangi cukup romantis. Suara merdu Vina Panduwinata yang melantunkan September Ceria, dapat membawa suasana hati pengunjung hanyut dalam kenangan indah masing-masing.
Seyogyanya hati kedua insan ini pun demikian, larut dalam kemerduan suara Vina. Tapi kenyataannya, tidak demikian. Keduanya masih diam membisu. Lidah mereka masih terasa kelu untuk menguraikan isi hati dengan segenap perasaan. Rupanya perpisahaan yang tidak mengenakkan yang telah berlangsung hampir dua tahun, membentangkan sebuah jarak diantara keduanya. Terlebih lagi pertemuan yang tidak sengaja di Sogo Departement Store, cukup mengganjal hati keduanya. Keduanya belum berani secara terbuka menanyakan pertemuan itu. Rendi enggan menanyakan siapa lelaki yang saat itu dipeluk mesra oleh Kintan. Apakah itu memang pacar pengganti dirinya atau hanya teman lelaki yang diajak untuk sekadar jalan-jalan. Rendi tak mau memulai menanyakan siapa sosok pria itu. karena agenda pertemuanya saat ini, ia hanya ingin meminta maaf dan ingin menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya selama dua tahun terakhir.
”Mas minta maaf atas kejadian tempo hari.” ungkap Rendi perlahan.
”Tak ada yang perlu dimaafkan Mas. Kintan mungkin saat itu terlalu egois,” jawab Kintan, juga dengan nada perlahan.
“Sebenarnya waktu itu, mas sudah menikah dengan Yosi, Ret. Kami sudah menikah saat mas masih dipenjara,”
Hening. Senyap. Tapi hati Rendi begitu berdegup keras.
”Kintan sudah tahu mas. Mas Capung sudah cerita semuanya.”
Rendi menghela nafas panjang. Ia merasa lega dan hatinya terasa enteng, saat mendengar pernyataan tadi. Padahal sejak dari Jakarta, ia sudah menduga Kintan akan meninggalkan dirinya dengan hawa amarah, saat ia mengatakan dirinya telah menikah. Tapi ia sudah siapkan hati. Ia hanya bisa pasrah dan menerima reaksi apapun yang bakal dilontarkan Kintan. Meski ia akan dihina sekalipun.
”Jadi Capung sudah cerita semuanya?”
Kintan mengangguk.
”Kamu sendiri bagaimana?”
”Kintan beberapa bulan lagi akan menikah mas.”
Tanpa tekanan dan lirih, suara itu meluncur begitu saja.
Rendi seperti disambar petir mendengarnya. Hatinya berdegup keras. Apa yang dikhawatirkan sejak dari Jakarta, akhirnya terbukti benar. Kintan sudah melupakan dirinya. Kintan tidak memaafkan atas kesalahannya.

Categories: sastra

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment