DPR telah mengesahkan RUU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) menjadi Undang-Undang KIP pada Kamis 3 April 2008. UU ini mewajibkan badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan/atau badan usaha lainnya yang dimiliki oleh negara untuk menyediakan informasi publik. Informasi publik yang dimaksud adalah informasi yang disimpan oleh badan publik baik itu eksekutif, legislatif, dan yudikatif dan badan lain yang tugas dan fungsinya terkaitan langsung dengan penyelenggaraan negara.
Dengan diberlakukannya UU KIP yang efektif tahun 2010, lembaga publik sebagai pemilik informasi publik, harus membuat suatu sistem informasi yang dapat diakses secara mudah, cepat, murah, dan mobile. Untuk memenuhi syarat tersebut, lembaga publik harus menggunakan teknologi informasi terbaru agar informasi yang dimilikinya dapat diakses dengan mudah. Informasi tersebut harus disimpan dalam bentuk digital dan multimedia. Multimedia adalah sebuah sistem komunikasi yang menawarkan teks, grafik, suara, video, dan animasi. Untuk mempermudah akses bagi masyarakat di berbagai tempat, lembaga publik bisa menggunakan teknologi berbasis web atau internet. Sehingga masyarakat dapat mengakses kapan saja dan dimana saja ia berada.
Amerika Serikat merupakan contoh bahwa pemerintah dapat menyiapkan informasi tanpa diminta lebih dahulu oleh masyarakat. Pada awal tahun 1900-an, Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt membuat pertemuan secara teratur dengan para wartawan yang biasa meliput acara di gedung putih. Sejak itu, para wartawan Gedung Putih memperoleh informasi kelas A karena didapat dari orang nomor satu di Amerika Serikat.
Mulai tahun 1993, Gedung Putih mengembangkan jaringan komunikasi elektroniknya. Bulan Juni 1993, Gedung Putih membuat kotak surat elektronika (email). Pada enam bulan pertama sejak kotak surat elektronika ini dibuka, Gedung Putih mendapat lebih dari 100 ribu surat elektronika. Pada September 1993-Januari 1994, Gedung Putih mengelola lebih dari 200 ribu permintaan yang dikirim melalui e-mail untuk mendapatkan informasi.
Lebih dari 1.600 dokumen diterbitkan secara elektronika, termasuk laporan konferensi pers yang diadakan presiden. Gedung Putih juga mendirikan perpustakaan swalayan elektronika yang melayani permintaan akan dokumen pemerintah. Informasi dari Gedung Putih itu hanya salah satu contoh dari peluang yang makin besar bagi wartawan untuk mendapatkan informasi. (Erlvinaro & Lukiati, 2004 :146).
Di Indonesia langkah yang dilakukan Gedung Putih, juga ditempuh Presiden Susilo Bambang Yudhonono. Pemerintah, departemen, lembaga non departemen, dan badan pemerintah membuat situs internet untuk menyampaikan berbagai kebijakan dan aktivitas pemerintahan.
Informasi Nomor Satu
Industri yang terkait langsung dengan informasi publik adalah bidang komunikasi massa, yaitu jenis komunikasi dimana penyampaian pesan atau informasi melalui media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Pesan atau informasi ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim dan dapat diterima secara serentak dan sesaat. Media elektronik adalah stasiun televisi, radio, film, internet dan media cetak adalah koran, majalah, tabloid.
Komunikasi massa akan terus berperan penting dalam kehidupan kita. Komunikasi massa menjadi mata dan telinga masyarakat. Komunikasi massa memberi masyarakat sarana untuk mengambil keputusan dan membentuk opini kolektif yang bisa digunakan untuk bisa lebih memahami diri mereka sendiri. Ia merupakan sumber utama untuk mengembangkan nilai-nilai dalam masyarakat. (Severin-Tangkard, 2005: 4)
Komunikasi massa dimana salurannya adalah media massa berisi tentang; berita dan informasi; analisis dan interpretasi; pendidikan dan sosialisasi; hubungan masyarakat dan persuasi; iklan dan hiburan. (Hiebert, Ungurait, dan Bohn, 1985). Tiga pertama dari lima isi media massa tersebut bersentuhan langsung dengan informasi .
Para pekerja di media massa yang terdiri dari reporter, wartawan, fotografer, editor akan mencari informasi dari berbagai sumber, termasuk dari lembaga publik, untuk kebutuhan penulisan berita. Semakin cepat, akurat, dan lengkap seorang wartawan mendapatkan informasi, maka semakin tinggi nilai berita yang dibuatnya.
Media massa yang menurunkan berita paling pertama dengan tingkat akurasi berita yang tinggi, akan mendapat perhatian besar dari masyarakat. Berita tersebut menjadi headline dan mengalahkan berita-berita yang disajikan oleh media massa pesaingnya. Intinya sebuah media massa bisa berkembang dan besar bila mampu menyajikan informasi-informasi yang aktual, akurat, terpercaya, dan memiliki dampak luas. Termasuk mampu menyajikan informasi yang pertama kali ke masyarakat meninggalkan pesaing-pesaingnya.
Televisi menyampaikan informasi yang beragam dan terkini untuk memuaskan pemirsa dalam bentuk teks, foto, audio dan video. Informasi berbaru disampaikan dalam bentuk berita yang ditayangkan setiap 30 menit atau 60 menit sekali. Sedangkan berita dalam bentuk teks, ditayangkan setiap saat dalam bentuk running teks yaitu berita kecil yang ditayangkan dalam bentuk tulisan dibawah layar.
Media cetak terbit dua kali dalam sehari, yaitu edisi pagi dan edisi siang. Harian Seputar Indonesia, Harian Kompas, dan Harian Media Indonesia termasuk media cetak yang melakukan langkah tersebut. Dengan membuat dua edisi dalam satu hari, menunjukkan media massa saling berkompetisi menyediakan informasi terkini, yang baru saja terjadi kepada masyarakat
Harus Dioptimalkan
Berlomba-lombanya media massa menyampaikan informasi terkini, merupakan bentuk untuk meningkatkan daya saing agar produk tersebut tetap kompetitif di pasaran. Daya saing media massa tersebut diimplementasikan dengan membuat produk-produk yang berkualitas dan produk tersebut pro pasar. Bila media massa tidak memiliki daya saing, ditinggalkan pemirsa dan pemasang iklan. Media masa tentu tidak sekadar menyiarkan informasi semata, tetapi membutuhkan pemasukan bagi kelangsungan hidupnya. Media massa bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi orientasi keuntungan menjadi dasar pembentukan organisasi (Nurudin, 2007).
Para pekerja di media massa harus pintar dan cerdas untuk memilih dan menentukan jenis informasi publik apa yang diinginkan masyarakat, mengingat informasi yang tersimpan di lembaga publik amat banyak dan beragam. Untuk ”mengendus” informasi publik yang mengandung berita tinggi, seseorang harus memiliki pengetahuan yang luas. Sehingga informasi publik yang selama ini tersimpan rapat, dapat diolah dan disebarkan menjadi sebuah berita besar.
Pada akhirnya, informasi publik harus dimanfaatkan secara optimal oleh pekerja media massa untuk meningkatkan kualitas pemberitaan. Sehingga produk yang dihasilkan dari sisi jurnalistik memiliki cukup berbobot dan dari sisi komersial memiliki nilai jual yang tinggi.
Drs Media Sucahya-Dosen STIKOM Wangsa Jaya Banten
Dimuat di Harian Banten Raya 15 Mei 2008
Referensi
- Hiebert, Ungurait, dan Bohn, Mass Media IV:An Introduction to Modern Communication, 1985
- Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, Rajawali Press, 2007.
- Teori Komunikasi, Sejarah, Metode, dan Terapan Di Dalam Media Massa, Severin-Tangkard, Jakarta, Prenada Media, 2005.
- Erlvinaro Ardianto & Lukiati Komala Erdinaya, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, 2004.
Drs Media Sucahya